Skip to content

CUNTAKA – KECUNTAKAAN

21/10/2012

Om Swastyastu. 

Ada kecendrung banyak dari kita, yang salah kaprah dlm penerapan kata Cuntaka sehingga sering terjadi perbedaan persepsi serta implementasi dalam menanggapi cuntaka itu sendiri.

Pada dasarnya Hyang Maha Suci ( Hyang Widhi Wasa) hanya bisa didekati dengan kesucian, sehingga sudah sewajarnyalah kalau kita ingin mendekatkan diri kita kepadaNya seyogyanya memakai jalur khusus yaitu kesucian lahir dan bathin, sehingga itulah sebabnya di beberapa tempat suci khususnya Utamaning Mandala sebuah pura biasanya sangatlah dipertahankan / diusahakan untuk memposisikan Pura itu di tempat yang suci, atau disucikan.

Tempat suci dengan tempat yang disucikan ada sedikit berbeda : 

  1. Tempat Suci = ada beberapa area yang sudah dianggap suci oleh umat hindu berdasarkan lokasi yang dimilikinya suatu contoh : Puncak gunung ( manara giri ) Telebutan air / campuan air ( Danau )  Telengin segara ( samudra ) pura segara.
  2. Sedangkan Tempat yang Disucikan = Tempat yang sebelumnya kita tidak tahu historynya seperti apa, bisa jadi kuburan, bisa jadi alun alun dan sebagainya, karena merupakan kebutuhan masyarakat untuk dijadikan rumah Ibadah maka lokasi itupun disucikan sehingga menjadi tempat suci.

Nah dari kedua tempat suci yang disucikan itu, agar tetap kesuciannya terjamin sehingga dirasakan vibrasinya sangat istimewa, sehingga perlulah dibuat Guide line atau tatanan acara / sesananning masuk pura. Sehingga sesananing masuk pura di suatu tempat terkadang tidak sama dengan di tempat yang lain, meskipun tujuannya sama sama untuk menjaga kesucian Pura, hal ini sangat banyak dipengaruhi oleh Dresta setempat pada saat awig-awig itu disepakati bersama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dilarang dilakukan dipura adalah sebagai berikut :

A. Cuntaka lantaran kotor lahiriah ( sebel ) 

  1.  Hindari Bedarah darah masuk pura, yang sedang Menstruasi, luka berdarah termasuk tukang paebat yang tangannya masih belepotan dengan darah.
  2. Hindari netekin / menyonyonin di pura.
  3.  Hindari badan yang masih kotor, belepotan masuk pura, sehingga menimbulkan nuansa yang tidak sreg untuk sembahyang bagi yang lainnya yang datang sembah.
  4. Hindari membuang kotoran di pura ( buang air besar / kecil ).
  5.  Hindari rambut jatuh di pura, sehingga diusahakan untuk mepusungan ke pura bagi yang istri, bagi yang lanang jangan potong rambut, kumis, jenggot dipura.
  6. Hindari meninggalkan kotoran, daki, bagian dari tubuh kita di pura, misalnya potong kuku, gosok gigi, korek kuping dan sebagainya.
  7. Terkadang ada yang menerapkan bagi anak wanita yang sudah semestinya datang bulan, tetapi sudah tutug kelih bulannya tak kunjung datang.

B. Cuntaka lantaran manah Bathiniah ( sebet ) 

  1. Ada bagian keluarga yang meninggal ( Umumnya mereka yg tunggal sembah ) penerapan awig-awig ini sangat beraneka ragam : Area Sebelnya ada sebatas tunggal sembah, sebatas tembok kiri kanan depan belakang, ada sampai sebatas dusun dan juga terkadang ada sampai satu desa. Demikianpun durasi lama waktu cuntaka ini, sangat bervariasi, ada sebatas s/d Ngerorasin bagi yang meninggal, ada sebatas ngelinggihan dewa hyang tergantung dari commitment krama adat itu sendiri.
  2. Hilang ingatan ( dianggap mati ) mayat berjalan.
  3. Kelahiran Bayi ( puput puser batas cuntaka sang ayah), dan 42 hari batas cuntaka sang Ibu.

Pada umum cuntaka seperti d iatas ini penerapannya hampir sama, namun terkadang ada juga yang berbeda, tetapi perbedaannya tidak terlalu menjolok. Nah inilah biasanya di buatkan awig-awig dalam tatanan masuk pura yang bertujuan untuk menjaga kesucian pura yang merupakan milik orang banyak.

C. Unpredicable cuntaka. 

Ada bebrapa cuntaka yang sangat sulit untuk dideteksi orang lain, malahan terkadang hanya orang yang bersangkutan saja mengetahui dirinya tak layak untuk ke pura misalnya:

  1. Telah melakukan perbuatan asusila, nyolong, memfitnah, berkelahi (tetapi orang lain belum tentu tau kondisinya).
  2. Gamya Gemana – kawin dengan cara yang tidak wajar ( dengan ibu kandung, anak, dengan binatang dan sebagainya).
  3.  Marah-marah (Mojar gangsul, nangun kroda), sehingga kalau dipaksakan dirinya berada di pura bisa jadi akan mempengaruhi keheningan dalam sembahyang.

Banyak lagi contoh-contoh yang lainnya, sehingga yang seperti ini sangat sulit untuk di prediksi sehingga sulit untuk mengundang-undangkan.

Demikian sekilas tentang Cuntaka

 Om Santih Santih Santih Om

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: